Untuk Hana

Maafkan Ayah tak menandai kelahiranmu dulu dengan tulisan di blog ini sebagaimana yang Ayah lakukan untuk kakakmu. Ayah sungguh tak bermaksud membeda-bedakan kalian. Kondisi Ayah menjelang kelahiranmu memang sedang tak baik-baik saja. Banyak kesalahan yang Ayah lakukan yang membuat Ayah tak bisa menjalankan tugas Ayah dengan baik.
Namun begitu, kau perlu tahu hal ini: Ayah menitipkan doa dalam namamu. Ayah berharap kehadiranmu menjadi penanda perubahan baik paling tidak untuk keluarga kita, syukur-syukur untuk negeri kita, bahkan dunia ini.
Ayah bersyukur bahwa doa yang terpatri dalam namamu itu dikabulkan oleh-Nya. Kehidupan keluarga kita perlahan mulai membaik sejak kehadiranmu. Ayah menemukan beberapa petunjuk untuk memperbaiki diri. Satu persatu petunjuk itu datang sendiri pada Ayah.
Ayah yang sekarang menulis ini adalah pribadi yang sangat berbeda dengan Ayah yang sedang cemas menyambut kelahiranmu dulu. Insya Allah, Ayah akan mempertahankan semua ini.
Ayah menyanyangi kalian semua: Ibuk, Nan, Hana. Semoga Allah menjaga kalian dalam kebaikan.

Almost 40

I will soon become 40 years old based on Islamic/Javanese calendar. The age of 40 is a special age mentioned in the Quran 46:15.
“We have enjoined upon man kindness to his parents. His mother carried him with difficulty, and delivered him with difficulty. His bearing and weaning takes thirty months. Until, when he has attained his maturity, and has reached forty years, he says, “Lord, enable me to appreciate the blessings You have bestowed upon me and upon my parents, and to act with righteousness, pleasing You. And improve my children for me. I have sincerely repented to You, and I am of those who have surrendered.” (Quran 46:15)
Some non-mainstream Islamic thinkers believe that the age of 40 is the start of human responsibility in front of Allah. While I don’t share this believe, I find this thinking is helpful to ease my regrets of almost 40 years living a regretful life. It was a “training” before I live the real life after 40.
It wasn’t a bad life, actually. I’m grateful for what I’ve got in my life: parents, wife, house, children, job, friends, knowledge, but I’m haunted by my own failure and my carelessness toward people who support me. I’ve disappointed so many people, and for all of those sins I repent.
Allah, please guide me.

Mandiri dalam Berpikir

Ketika orang bercerita suatu hal, kita bisa bertanya atau mencari tahu sendiri bagaimana caranya agar bisa tahu seperti orang itu. Jika kita runut terus, kita akan bisa sampai pada kesimpulan, apakah hal yang diceritakan orang tersebut mungkin untuk kita ketahui atau tidak.
Hal yang mungkin bisa kita ketahui, akan kita ketahui juga jika kita mau berupaya. Jika kita sudah tahu, pengetahuan kita akan sama seperti orang lain yang juga tahu.
Hal yang tidak mungkin bisa kita ketahui akan berujung pada orang pertama yang mengatakan hal itu, kemudian kita tidak menemukan cara bagaimana orang pertama tersebut bisa tahu. Dalam keadaan seperti itu, pengetahuan kita tidak akan bisa sama seperti si orang pertama, karena kita tidak akan pernah bisa tahu sendiri. Keadaan ini akan membuat kita selalu bergantung pada si orang pertama ketika kita akan menceritakan hal itu pada orang lain.
Jika kita sering memilah seperti itu, kita akan bisa menemukan mana hal-hal yang kita bisa mandiri dalam berpikir karena tahu sendiri dan mana hal-hal yang kita pasrah bergantung pada orang lain. Jika sudah begitu, kita bisa menentukan sendiri sejauh mana kita mau mandiri dalam berpikir sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Tertib dalam Berpikir

Kebiasaan seseorang tidak tertib dalam berpikir, apalagi disertai dengan keadaan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, lama-lama bisa menimbulkan kesalahan dalam memodelkan kenyataan.
Contoh tidak tertib dalam berpikir: “setiap kali mencuci mobil selalu turun hujan setelahnya, jadi jika ingin panggil hujan, cucilah mobil”. Di sini ada tahapan berpikir yang dilewati yaitu memasukkan data kejadian turun hujan saat tidak mencuci mobil, dan kejadian mencuci mobil lalu tidak turun hujan. Jika orang melihat data itu, dengan benar pasti bisa menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara turun hujan dengan mencuci mobil, karena setiap hari selalu ada orang mencuci mobil namun tidak setiap hari turun hujan.
Contoh di atas jika ditambah dengan keadaan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu proses terjadinya hujan, dan mengira tahu bahwa sebab turunnya hujan adalah karena mobil dicuci, akan menimbulkan tidak cocok antara proses terjadinya hujan yang ada dalam pikirannya dengan yang ada dalam kenyataan.
Jika kebiasaan tidak tertib berpikir ini dilakukan lagi dalam hal lain, lalu dihubungkan dengan hasil berpikir sebelumnya, akan terbentuk model dunia yang tidak sesuai dengan cara kerja dunia nyata. Jika model yang tidak sesuai ini dipakai dalam tindakan, hasilnya bisa melenceng jauh dari kenyataan cara kerja dunia dan mungkin malah membahayakan. Contohnya seperti ini: di musim kekeringan, orang yang percaya mencuci mobil dapat menurunkan hujan mengajak orang lain yang juga percaya untuk mencuci mobil beramai-ramai supaya hujan lekas turun. Tindakan tersebut bisa memboroskan air yang langka, sedangkan hujan tidak pasti turun karena cara kerja hujan bukan seperti itu.

Years of Downfall

(I know my English is poor, but I don’t really care, I will write this entry in English to test my ability.)
It began at 2002, the downfall of me. I was a bright student during my elementary and junior high school years. That was my reason for taking accelerated class in my high school. But everything didn’t go as smooth as I imagined. I became more and more lazy. I was the last rank student in my class. I was graduated from high school with minimum scores on some subjects.
It wasn’t all bad actually. I’ve been able to pass university admission test and I was enrolled in one of the best university in Indonesia: Universitas Gadjah Mada. The first three of my collage years were not bad.
The forth year was the beginning of my new downfall. I don’t know what the reasons of my poor behavior, I started to postponed my tasks, became much much more lazier than before. I spent twice of normal study years to finish my degree.
But once again, I got new opportunity to have a better life. After I graduated from college, I didn’t have to wait too long to got a job. It is a dream job for many Indonesian: working as a civil servant, it’s the Indonesian version of American dream. I moved to Surabaya to work that job.
One year after that, I began to behave so poorly. I feel too ashamed to tell you what I’ve been done back then. I’ve been diagnosed with bipolar disorder and had to take medicines. I cannot live alone, so I lived with my mother for several months until I got married. So the story goes on, I was married, had my own small family, but my poor behavior doesn’t stop. I went through up and down, very unstable.
Long story short, right now I’m not in my best condition. I want to back to the track, but I’m afraid I cannot perform as good as I should be. But I don’t want to be like this forever. I need money to raise my kids properly, but I’m too ashamed of my past behavior.
I don’t know what to do.

Jika Aku Mati

Aku tak yakin bakal ada lebih dari 10 orang yang menangis kalau aku mati. Paling hanya 5-6 orang saja.

Yang melayat tentu banyak. Sepulang melayat, sebagian mereka akan mampir di tempat makan yang enak dan mengusir kebosanan di perjalanan dengan bernyanyi-nyanyi.
Hari-hari setelahnya, namaku akan dijadikan guyonan sebagai hantu yang menghuni sebuah ruangan terpencil dan mengganggu mereka yang terlambat pulang.

Just Another “Postingan Sambat”

Fren, sulit sekali diriku bangkit lagi. Rasanya kepercayaan diriku tinggal seujung kuku saja.
Aku datang ke tempat kerja dan melihat pekerjaanku yang belum juga selesai. Ingin sekali aku lembur, kerja saat tak ada orang lain agar aku bisa segera merampungkan tugas-tugasku. Tiap kali ada orang lain, rasanya mereka seperti menghakimi, tatapan mereka seakan bilang, “belum selesai juga kerjaan itu?”.
Kalau ingin mengerjakan di rumah, selalu saja ada hal lain yang membuatku tak bisa duduk diam di depan komputer. Banyak tugas rumah tangga yang harus kukerjakan.
Mungkin, ini waktunya bersikap “bodo amat” seperti kata buku motivasi yang laris itu. Bodo amat orang bilang apa, yang penting kerjaan selesai. Tapi sayangnya, itu tak mudah. Aku benar-benar tak punya daya untuk melakukan itu.
Aku harus mengembalikan kepercayaan diriku secepat mungkin. Jika begini terus, aku bisa kena hukuman lagi.

Titik Terendah, Lagi

Sangat sulit menjaga semangat. Sedikit lengah menjaga waktu tidur, hancur sudah semangat itu. Sedikit ada rasa kecewa, rasa bersalah, atau rasa takut, lenyaplah semangat itu. Ini tentu tidak terjadi pada setiap orang, hanya pada orang-orang yang punya “kelemahan” tertentu. Aku salah satu orang yang seperti itu.
Aku sedang mengalaminya, lagi. Ini berulang. Semangat lenyap, sesuatu yang menyenangkan datang, semangat timbul lagi, lalu sesuatu yang menyebalkan datang, dan semangat itu pergi. Terus seperti itu.
Kadang aku berpikir, jangan-jangan aku memang pemalas. Tetapi, kalau kuingat bagaimana produktifnya diriku saat semangat itu ada, juga mengingat capaian-capaian yang pernah kudapatkan, aku tidak begitu yakin bahwa aku pemalas.
Tetapi, orang-orang yang tidak mengalami apa yang kualami tampaknya tak bisa memahami apa yang terjadi padaku. Mereka menginginkan aku bisa seperti mereka.
Aku pun sebenarnya ingin seperti mereka, sungguh sangat ingin. Kalian mungkin tahu, aku bahkan pernah berobat cukup lama untuk menghilangkan “kelemahan”-ku ini. Aku menghentikan pengobatan itu karena ada dampak yang membuatku tersiksa. Jadi, aku hanya bertahan dengan caraku sendiri. Berjuang sendiri untuk mengembalikan semangat itu.
Perjuangan untuk kembali bersemangat itu tak mudah. Setiap semangat hilang, kinerjaku menurun, akibatnya aku mendapatkan hukuman. Hukuman membawa rasa malu dan rasa bersalah, sesuatu yang membuat semangat makin hilang. Perjuangan menuju semangat menjadi berlipat ganda beratnya.
Kadang-kadang, aku ingin mengakhiri saja semua itu. Pergi jauh, sejauh-jauhnya, ke Pulau Sumatera, ke Planet Mars, atau bahkan ke alam kubur, itu yang ingin kulakukan. Tetapi, aku tak berani melakukannya. Ada orang tua yang akan menangis sampai sakit, ada anak dan istri yang akan hancur hidupnya, jika aku melakukan itu.
Belakangan, aku belajar untuk menerima semua itu. Hukuman kujalani saja. Rasa malu kutahan. Olok-olok kutanggapi dengan gurauan. Di depan banyak orang, aku tampak seperti orang yang tak punya rasa bersalah. Di belakang, aku menangis sendirian.
Aku tak mungkin berharap orang mau menerima “kelemahan”-ku ini. Sistem di tempatku bekerja tidak menerima alasan-alasan seperti ini. Dan sayangnya, aku terlanjur membangun rumah tangga yang mau tak mau memaksaku harus menghasilkan uang cukup, sesuatu yang saat ini hanya bisa kudapatkan di tempatku bekerja sekarang.
Ya sudah. Waktunya menangis, ya menangis. Nanti juga datang waktunya tertawa. Hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bertahan untuk tetap hidup, sepedih apapun tangisanku.