Ihsan Ariswanto

Fren, sulit sekali diriku bangkit lagi. Rasanya kepercayaan diriku tinggal seujung kuku saja.

Aku datang ke tempat kerja dan melihat pekerjaanku yang belum juga selesai. Ingin sekali aku lembur, kerja saat tak ada orang lain agar aku bisa segera merampungkan tugas-tugasku. Tiap kali ada orang lain, rasanya mereka seperti menghakimi, tatapan mereka seakan bilang, “belum selesai juga kerjaan itu?”.

Kalau ingin mengerjakan di rumah, selalu saja ada hal lain yang membuatku tak bisa duduk diam di depan komputer. Banyak tugas rumah tangga yang harus kukerjakan.

Mungkin, ini waktunya bersikap “bodo amat” seperti kata buku motivasi yang laris itu. Bodo amat orang bilang apa, yang penting kerjaan selesai. Tapi sayangnya, itu tak mudah. Aku benar-benar tak punya daya untuk melakukan itu.

Aku harus mengembalikan kepercayaan diriku secepat mungkin. Jika begini terus, aku bisa kena hukuman lagi.

@ihsan@venera.social

Kejadian bulan lalu di tempat kerjaku membuat beberapa teman mulai memikirkan tentang privasi dalam menggunakan perangkat telekomunikasi. Ada yang mulai mengganti nomor telepon, ada yang bahkan membeli ponsel baru karena khawatir dengan privasinya.

Read more...

Sangat sulit menjaga semangat. Sedikit lengah menjaga waktu tidur, hancur sudah semangat itu. Sedikit ada rasa kecewa, rasa bersalah, atau rasa takut, lenyaplah semangat itu. Ini tentu tidak terjadi pada setiap orang, hanya pada orang-orang yang punya “kelemahan” tertentu. Aku salah satu orang yang seperti itu.

Read more...

Aku sangat menyenangi komik Amerika, terutama Batman. Selain Batman aku juga suka komik Star Wars. Tentu aku juga suka komik Jepang, tetapi kalau harus memilih antara komik Jepang atau komik Amerika, aku mungkin akan memilih komik Amerika.

Read more...

Sepekan terakhir, aku membaca ulang komik Dragon Ball, mulai dari volume 1 ketika Bulma pertama kali bertemu Son Goku sampai dengan volume 42 ketika Majin Buu berhasil dikalahkan dan bumi berada pada masa damai.

Read more...

Aku tak yakin bakal ada lebih dari 10 orang yang menangis kalau aku mati. Paling hanya 5-6 orang saja.

Yang melayat tentu banyak. Sepulang melayat, sebagian mereka akan mampir di tempat makan yang enak dan mengusir kebosanan di perjalanan dengan bernyanyi-nyanyi.

Hari-hari setelahnya, namaku akan dijadikan guyonan sebagai hantu yang menghuni sebuah ruangan terpencil dan mengganggu mereka yang terlambat pulang.

@ihsan@venera.social