Just Another “Postingan Sambat”

Fren, sulit sekali diriku bangkit lagi. Rasanya kepercayaan diriku tinggal seujung kuku saja.
Aku datang ke tempat kerja dan melihat pekerjaanku yang belum juga selesai. Ingin sekali aku lembur, kerja saat tak ada orang lain agar aku bisa segera merampungkan tugas-tugasku. Tiap kali ada orang lain, rasanya mereka seperti menghakimi, tatapan mereka seakan bilang, “belum selesai juga kerjaan itu?”.
Kalau ingin mengerjakan di rumah, selalu saja ada hal lain yang membuatku tak bisa duduk diam di depan komputer. Banyak tugas rumah tangga yang harus kukerjakan.
Mungkin, ini waktunya bersikap “bodo amat” seperti kata buku motivasi yang laris itu. Bodo amat orang bilang apa, yang penting kerjaan selesai. Tapi sayangnya, itu tak mudah. Aku benar-benar tak punya daya untuk melakukan itu.
Aku harus mengembalikan kepercayaan diriku secepat mungkin. Jika begini terus, aku bisa kena hukuman lagi.

Tentang Privasi dalam Telekomunikasi (bagian 1)

Kejadian bulan lalu di tempat kerjaku membuat beberapa teman mulai memikirkan tentang privasi dalam menggunakan perangkat telekomunikasi. Ada yang mulai mengganti nomor telepon, ada yang bahkan membeli ponsel baru karena khawatir dengan privasinya.

Soal privasi ini bukan perkara mudah. Ponsel yang biasa kita pakai boleh dikatakan “tidak privat sejak dalam pikiran”. Ini belum lagi membahas sistem operasi dan aplikasi yang biasa dipakai orang di ponselnya.

Kita bicarakan dulu dari awal. Untuk dapat berkomunikasi dengan ponselnya, orang harus berlangganan pada penyedia layanan (provider). Provider punya kemampuan untuk mendengarkan percakapan kita di telepon maupun membaca pesan yang dikirimkan lewat SMS pada jaringan mereka.

Untungnya, pengguna dilindungi oleh undang-undang dari tindak penyadapan. Setidaknya ada dua undang-undang yang melindungi pengguna, yaitu UU Telekomunikasi dan UU ITE. Namun, kedua UU tersebut memberikan pengecualian. Ada beberapa pihak yang dengan persyaratan tertentu diizinkan untuk melakukan penyadapan. Pihak-pihak itu adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Intelijen Negara (BIN), lembaga kepolisian, dan lembaga kejaksaan. Boleh dikatakan, bahwa dengan seseorang memakai layanan dari provider telekomunikasi, ia telah setuju untuk memberikan izin disadap oleh pihak-pihak tersebut jika diperlukan.

Selanjutnya, selain dalam hal komunikasi, provider juga punya kemampuan untuk mengetahui di mana lokasi penggunanya. Jauh sebelum GPS (atau layanan GNSS lainnya) menjadi fitur dalam ponsel, provider sudah bisa mengetahui perkiraan lokasi penggunanya dengan cara melihat tower mana yang terhubung dengan ponsel penggunanya. Ponsel yang aktif digunakan akan selalu aktif juga terhubung dengan tower terdekat. Dari situ bisa diketahui, meskipun belum bisa persis, lokasi pengguna saat sedang menggunakan ponselnya.

Sekarang, kita beranjak ke smartphone. Ini adalah jenis ponsel yang paling lazim kita pakai sekarang ini. Smartphone adalah sebuah komputer. Selain harus memakai layanan provider telekomunikasi, smartphone sebagai komputer juga mengharuskan penggunanya untuk memakai software.

Dilihat dari sisi privasi, ada dua macam software. Yang pertama adalah software dengan kode sumber tertutup, dan yang kedua adalah software dengan kode sumber terbuka.

Software dengan kode sumber tertutup mengharuskan penggunanya untuk percaya begitu saja dengan pembuat software-nya. Jika diibaratkan sebuah makanan, orang tidak bisa melihat apa bahan-bahan yang dipakai, bagaimana makanan itu diolah. Demikian juga pengguna software yang kode sumbernya tertutup. Ia hanya tahu informasi dari apa yang disampaikan pembuatnya. Jika ternyata ada fitur-fitur yang bisa mengakses privasi penggunanya, bisa jadi si pengguna tak akan pernah tahu.

Lain halnya dengan software yang kode sumbernya terbuka. Kembali kita ibaratkan dengan makanan, software dengan kode sumber terbuka diibaratkan seperti makanan yang disertai dengan resep dan cara memasaknya. Orang dapat mengolah sendiri makanan itu, atau jika ia tak pandai memasak, bisa meminta tolong orang lain untuk memasakkan sambil ia mengawasi proses memasaknya.

Software yang pasti selalu ada dalam sebuah komputer adalah sistem operasi. Hari ini, ada dua sistem operasi smartphone yang paling banyak digunakan, Android dan iOS. Android pada dasarnya adalah software yang kode sumbernya terbuka. Hanya saja, secara resmi Android didistribusikan oleh Google yang menambahkan banyak software dengan kode sumber tertutup. Sementara iOS adalah software yang kode sumbernya tertutup dengan disertai komponen-komponen yang kode sumbernya terbuka.

Adanya bagian software dengan kode sumber tertutup pada kedua sistem operasi populer tersebut merupakan celah yang memungkinkan bocornya privasi. Kita mungkin tidak tahu data-data apa di ponsel kita yang bisa dilihat oleh pembuat sistem operasi itu. Kita hanya bisa pasrah dan percaya bahwa pembuat sistem operasi itu tidak akan berbuat jahat pada penggunanya.

Pembahasan ini masih panjang, dan aku sudah lelah mengetik. Akan kulanjutkan lagi nanti di bagian 2.

Titik Terendah, Lagi

Sangat sulit menjaga semangat. Sedikit lengah menjaga waktu tidur, hancur sudah semangat itu. Sedikit ada rasa kecewa, rasa bersalah, atau rasa takut, lenyaplah semangat itu. Ini tentu tidak terjadi pada setiap orang, hanya pada orang-orang yang punya “kelemahan” tertentu. Aku salah satu orang yang seperti itu.
Aku sedang mengalaminya, lagi. Ini berulang. Semangat lenyap, sesuatu yang menyenangkan datang, semangat timbul lagi, lalu sesuatu yang menyebalkan datang, dan semangat itu pergi. Terus seperti itu.
Kadang aku berpikir, jangan-jangan aku memang pemalas. Tetapi, kalau kuingat bagaimana produktifnya diriku saat semangat itu ada, juga mengingat capaian-capaian yang pernah kudapatkan, aku tidak begitu yakin bahwa aku pemalas.
Tetapi, orang-orang yang tidak mengalami apa yang kualami tampaknya tak bisa memahami apa yang terjadi padaku. Mereka menginginkan aku bisa seperti mereka.
Aku pun sebenarnya ingin seperti mereka, sungguh sangat ingin. Kalian mungkin tahu, aku bahkan pernah berobat cukup lama untuk menghilangkan “kelemahan”-ku ini. Aku menghentikan pengobatan itu karena ada dampak yang membuatku tersiksa. Jadi, aku hanya bertahan dengan caraku sendiri. Berjuang sendiri untuk mengembalikan semangat itu.
Perjuangan untuk kembali bersemangat itu tak mudah. Setiap semangat hilang, kinerjaku menurun, akibatnya aku mendapatkan hukuman. Hukuman membawa rasa malu dan rasa bersalah, sesuatu yang membuat semangat makin hilang. Perjuangan menuju semangat menjadi berlipat ganda beratnya.
Kadang-kadang, aku ingin mengakhiri saja semua itu. Pergi jauh, sejauh-jauhnya, ke Pulau Sumatera, ke Planet Mars, atau bahkan ke alam kubur, itu yang ingin kulakukan. Tetapi, aku tak berani melakukannya. Ada orang tua yang akan menangis sampai sakit, ada anak dan istri yang akan hancur hidupnya, jika aku melakukan itu.
Belakangan, aku belajar untuk menerima semua itu. Hukuman kujalani saja. Rasa malu kutahan. Olok-olok kutanggapi dengan gurauan. Di depan banyak orang, aku tampak seperti orang yang tak punya rasa bersalah. Di belakang, aku menangis sendirian.
Aku tak mungkin berharap orang mau menerima “kelemahan”-ku ini. Sistem di tempatku bekerja tidak menerima alasan-alasan seperti ini. Dan sayangnya, aku terlanjur membangun rumah tangga yang mau tak mau memaksaku harus menghasilkan uang cukup, sesuatu yang saat ini hanya bisa kudapatkan di tempatku bekerja sekarang.
Ya sudah. Waktunya menangis, ya menangis. Nanti juga datang waktunya tertawa. Hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini hanyalah bertahan untuk tetap hidup, sepedih apapun tangisanku.

Tentang Komik Amerika

Aku sangat menyenangi komik Amerika, terutama Batman. Selain Batman aku juga suka komik Star Wars. Tentu aku juga suka komik Jepang, tetapi kalau harus memilih antara komik Jepang atau komik Amerika, mungkin aku akan memilih komik Amerika.

Aku memang lebih dulu kenal cerita pahlawan super dari Amerika ketimbang cerita-cerita dari Jepang. Selain itu, Star Wars adalah waralaba favoritku yang melebihi kesukaanku pada waralaba-waralaba Jepang, termasuk Dragon Ball.

Walau begitu, pada waktu masa kecilku hingga remaja, aku sama sekali tidak pernah membaca komik Amerika. Komik Amerika memang sulit didapatkan di Indonesia. Beda dengan komik Jepang yang banyak sekali diterjemahkan dan tersedia di toko buku atau bahkan di persewaan komik (masih adakah persewaan komik sekarang?). Kalaupun ada yang menjual komik Amerika di Indonesia, umumnya itu adalah barang impor, masih berbahasa Inggris dan harganya sangat mahal. Di Amerika Serikat sendiri, harga komik sudah cukup mahal, apalagi ketika diimpor ke sini.

Ada cara lain untuk membaca komik Amerika. Beberapa situs web dan aplikasi menyediakan akses komik digital dengan berlangganan secara bulanan. Sayangnya, tak semua melayani wilayah Indonesia. Kalaupun melayani, ada kendala pembayaran dan kendala bahasa juga yang membuat orang enggan. Ada juga yang menyediakan komik digital secara satuan, tanpa berlangganan, hanya saja harganya cukup mahal untuk tiap buku. Satu kelemahan lagi, layanan seperti ini dibatasi oleh DRM, dan umumnya mengharuskan penggunanya untuk menggunakan aplikasi yang tidak bebas.

Bagi yang bisa membaca bahasa Inggris, ada satu jalan keluar. Beberapa situs web menyediakan komik digital secara gratis. Hanya saja, legalitasnya dipertanyakan. Untungnya, selama ini belum pernah ada kejadian di Indonesia seseorang ditangkap karena membaca komik yang didapatkan dari jalur tak resmi.

Satu alternatif lain yang bisa kubagikan di sini, adalah komik digital Amerika terbitan lawas yang sudah habis masa hak ciptanya, atau oleh pemegang hak ciptanya diberikan izin terbatas untuk ditayangkan. Komik-komik seperti ini bisa diunduh atau dipinjam baca tanpa harus membayar. Ada beberapa situs web yang meyediakan layanan ini di antaranya archive.org, comicbookplus.com, dan digitalcomicmuseum.com. Kalau kalian ada waktu senggang dan ingin menyelami dunia komik Amerika, tak ada salahnya mencoba alternatif ini.