Perihal Tidak Mengunggah Foto dan Identitas Anak ke Internet

Saya memilih untuk membatasi pengunggahan foto dan identitas anak ke internet. Tidak dapat lepas seutuhnya memang. Sebab saya juga perlu mengirim foto anak kepada sanak saudara yang jauh, dan itu lebih nyaman melalui internet. Pun saya tidak melarang keluarga dan kerabat untuk mengunggah foto dan nama anak saya.

Ada beberapa alasan mengapa saya sendiri meminimalkan hal ini. Pertama, saya menghormati hak pribadi anak saya kelak kalau sudah besar. Boleh jadi dia ingin wajah dan namanya dikenal banyak orang, tapi boleh jadi pula dia ingin menyembunyikan identitasnya. Bagaimanapun saya telah dan akan banyak menentukan apa dan siapa dia pada awal kehidupannya. Mau tak mau memang saya akan mewariskan pandangan hidup yang akan menjadi fondasi baginya untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Tapi untuk hal-hal yang masih dapat dihindari sambil menunggu usianya mencapai mumayyiz, biarlah saya menunggu saja.

Alasan kedua adalah mencegah penggunaan foto anak saya untuk tujuan yang di luar kendali keluarga kami. Foto yang terunggah di publik sangat mudah untuk digandakan, dimanipulasi (diedit, dijadikan gambar meme, dan sebagainya), bahkan tidak menutup kemungkinan disalahgunakan untuk dijadikan alat tindakan kriminal. Kasus foto anak selebritas Ruben Onsu adalah salah satu contohnya.

Alasan ketiga, mungkin sedikit kurang masuk akal bagi Anda, adalah untuk mencegah orang yang mungkin berpikiran tidak baik dengan kelahiran anak kami. Dalam kepercayaan Islam, kami mengenal adanya ‘ain.

Hal-hal di atas adalah sikap saya sendiri. Saya tidak mempermasalahkan dan tidak akan mendebat Anda jika Anda berpandangan lain.

Oh ya, sedikit bocoran, saya memanggil anak saya Nan.

Pada Suatu Sabtu Kliwon

Dini hari di Bantul tentu saja adalah puncak kesunyian dalam ritme satu putaran bumi yang dilakoninya. Pekerja borongan yang lembur baru saja terlelap dan mbok-mbok pasar masih menyiapkan dagangannya di rumah. Geliat kehidupan rakyat masih menunggu sejam dua jam lagi untuk dimulai.
Namun, pada dini hari Sabtu Kliwon itu, di sebuah rumah yang berada di samping selokan lebar yang bertanggul, suatu aktivitas yang melibatkan seluruh anggota keluarga telah dimulai. Aktivitas mruput itu berawal dari keluhan satu anggota keluarga, seorang perempuan muda yang tahun lalu menikah. Setelah melalui masa empat puluh minggu kehamilan, dini hari itu sang perempuan mengalami pendarahan. Bersegeralah seisi rumah itu mempersiapkan diri, untuk kemudian melaju ke rumah sakit terdekat, RSUD Panembahan Senopati.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga itu. Bidan yang berjaga malam itu menyatakan bahwa sang perempuan muda telah mengalami pembukaan dua. Tinggal menunggu hitungan jam, si buah hati akan segera lahir ke jagat marcapada. Segala puji bagi Allah.
Sang perempuan muda kemudian dipindahkan ke ruang bersalin ditemani ibunya. Hanya satu orang yang diizinkan oleh petugas rumah sakit untuk menemani. Sementara si suami menunggu dengan cemas di kursi panjang di luar ruangan.
Subuh berkumandang, matahari Sabtu pagi itu akan segera memunculkan sinarnya. Sang perempuan muda kini telah melewati pembukaan empat.
Saat matahari telah naik sepenggalahan, ponsel si suami berdering. Ibu yang menjaga di dalam mengabarkan bahwa si buah hati telah lahir. Senyum mengembang di bibir hitam si suami. Lantunan pujian keluar dari bibirnya.
Si suami diizinkan masuk ke ruangan. Dilihatnya sang istri terlentang dengan darah meliputi tubuh dan pembaringannya. Dan tepat di dada perempuan muda itu, tergolek tubuh mungil dengan tangisan keras.
Engkau telah hadir, Nan.