Jika Aku Bermimpi Menyembelihmu

Sampai hari ini masih terbersit dalam pikiranku bahwa setanlah yang membisiki Kanjeng Nabi Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Biar bagaimana pun rasanya kok ya tidak masuk akal, Tuhan Yang Maha Pengasih memerintahkan hambaNya melakukan tindakan sekejam itu. Dalam pikiranku, Tuhan menyelamatkan jiwa Ismail kecil, menggantikan beliau dengan seekor domba.

Tentu saja pikiran tersebut sesat, setidaknya menurut yang dipahami mayoritas umat Islam. Mimpi tersebut konon memang dari Tuhan. Berulang tiga kali. Tuhan sengaja menguji kecintaan Kanjeng Nabi Ibrahim padaNya. Toh, pada akhirnya ending-nya pun sama. Ismail kecil tidak jadi disembelih.

Yang masih menjadi misteri bagiku adalah, bagaimana jika aku mendapat mimpi serupa? Bagaimana jika tiga malam berturut, aku bermimpi menyembelihmu? Bagaimana aku membedakan apakah mimpi itu petunjuk Tuhan ataukah bisikan setan?

Jikalau aku menerima mimpi itu sebagai petunjuk Tuhan, lalu aku mengambil gergaji untuk memotong lehermu, akankan muncul keajaiban yang sama? Akankah turun malaikat untuk menggantikanmu dengan seekor domba?

Tentu mimpi itu dapat berwujud lain. Bisa jadi berupa bisikan agar aku merakit peledak dan membunuh mereka yang kuanggap mengingari Tuhan, atau boleh jadi muncul pikiran untuk mengambil belati dan menusukkannya ke dada para penggerogot uang negara.

Atau bagaimana jika bisikan itu adalah rasa ingin meminum racun karena menganggap keberadaan diri ini hanya menjadi penyebab kerusakan bagi orang di sekitarku?

Entahlah, aku tidak mau melanjutkan pengandaian gelap itu. Yang aku pahami, melalui kisah Kanjeng Nabi Ibrahim itu, Tuhan mematahkan anggapan bahwa manusia harus mengorbankan manusia lain untukNya. Tuhan menegaskan bahwa pengorbanan yang benar adalah membagikan apa yang dimiliki untuk dinikmati sesama manusia.

Konspirasi Dukun dan Pedagang Kemenyan

Benar atau tidak yang kudengar ini, aku tak dapat membuktikan. Yang jelas, dari selentingan kabar yang tertangkap telingaku, aku dapati cerita ini cukup untuk membuatku waspada.

Sebelum lebih jauh membaca, perlu aku jelaskan bahwa apa yang kutuliskan ini adalah berita dari Nganjang Gribig, bukan di Nusantara yang kita cintai ini.

Konon begini, demi meraup untung sebanyak-banyaknya, para pembuat kemenyan sengaja mengutus juru dagangnya ke para dukun. Tentunya para juru dagang ini tidak datang dengan tangan kosong. Gula, teh, dan sedikit amplop sudah dipersiapkan untuk para dukun.

Tujuan diutusnya para juru dagang ini adalah agar sang dukun menyuruh para pengikutnya untuk membeli menyan merek tertentu yang diproduksi oleh si pembuat menyan yang mengutus juru dagang tadi. Selain buah tangan yang disetor di awal tadi, sang dukun juga ditawari amplop lebih tebal jika berhasil merekomendasikan kemenyan itu sesuai target yang disepakati.

Demi mencapai target tersebut konon para dukun tidak segan-segan menyuruh pengikutnya membeli kemenyan tersebut meskipun sebenarnya tidak diperlukan sama sekali dalam proses ritualnya.

Dapat Anda bayangkan efek dari penggunaan kemenyan yang tidak sesuai aturan ini. Nyai Widagdi misalnya, pernah kesurupan Siluman Unta waktu ritual memanggil leluhur akibat penggunaan kemenyan yang tidak pada tempatnya itu.

Kadang memang bahanyanya tak separah itu. Seperti yang dialami Pak Winarko, petani sederhana itu terpaksa menjual kambing satu-satunya demi membeli kemenyan yang disuruh dukun panutannya. Padahal dalam upacara mbeseli yang tiap jelang panen beliau lakukan, tidak perlu kemenyan mahal.

Entahlah mengapa para produsen menyan tega melakukan itu semua. Terlebih lagi para dukun. Mereka kok rela melanggar sumpahnya hanya demi meraih keuntungan duniawi semata. Ah iya, tentu saja tidak semua pedagang kemenyan dan dukun terlibat konspirasi seperti itu. Hanya oknum saja.