Kredit Tanpa Angsuran


Alkisah di kampung Kuat Kere, tersebutlah seorang kaya nan raya bernama Karto Sugiman. Pak Kar, begitu tetangga menyebutnya, punya sawah seluas empat kali lapangan sepak bola. Sapinya sepuluh ekor, tentunya lengkap dengan badan, kaki, dan kepala. Pokoknya tak seorang pun di kampung yang menandingi kekayaanny

Dulu, Pak Kar dikenal sebagai orang yang pelitnya minta ampun. Jangankan membayar seperempat puluh hartanya untuk zakat, membayar jimpitan ronda saja dia ogah. Belakangan, sejak Pak Kar ikut Perguruan Spiritual dan Spiritus (Pspsp) asuhan Ki Joyo Sumrinthil, sifatnya berubah 178 derajat. Kini, bukan hanya bayar zakat, bahkan segenap ayam peliharaan warga kampung pun ikut disantuni.

Demi menambah amal jariyahnya, Pak Kar meluncurkan program yang menghebohkan warga. Nama programnya adalah KTA singkatan dari Kredit Tanpa Angsuran. Warga kampung yang perlu dana segar dapat mengajukan kredit untuk tujuan apapun: konsumtif, produktif, rekreatif, bahkan sekretif maupun prokreatif.

Demi mendengar acara peluncuran program tersebut, berbondong-bondong warga kampung mendatangi rumah Pak Kar. Tampak di antara mereka ada Mat Parman, yang berencana membuka warung wifi dengan kopi gratis, ada Hermanto Kanil yang berencana meminang Sariyah menjadi istri kedua, dan puluhan wajah-wajah lain berdesakan memenuhi halaman rumah Pak Kar.

“Saudara-saudariku warga Kuat Kere,” Pak Kar membuka sambutannya, “terima kasih telah datang di acara hari ini. Ini adalah hari yang akan mengubah wajah kampung kita. Hari ini segala makhluk di kampung akan berbahagia,” Pak Kar berapi-api disambut riuh tepuk tangan warga yang berair-air.

“Saudara-saudari semua boleh mengajukan kredit berapapun. Tanpa perlu mengangsur seumur hidup. Sekali lagi, tanpa perlu mengangsur seumur hidup,” ucap Pak Kar. Hadirin makin riuh rendah.

“Namun, perlu saudara-saudari ketahui. Untuk menjamin kepastian bahwa kredit ini jatuh ke tangan yang tepat, saya perlu menyeleksi siapa di antara Anda semua yang sungguh-sungguh menginginkan kredit.”

“Bagi yang benar-benar berminat dengan KTA ini saya harap mendaftar ke loket di samping kiri itu. Untuk biaya administrasi saudara akan dikenakan biaya satu juta seratus ribu rupiah.”

Hadirin mulai saling pandang.

“Sebelum dapat mengajukan kredit, bagi yang sudah mendaftar, Anda diwajibkan untuk mencari anggota lain minimal sebanyak tiga orang. Jika sudah mendapat anggota tiga orang, Anda berhak mendapat Kredit Tanpa Angsuran sebesar tiga juta rupiah. Setiap tambahan satu anggota yang mendaftar melalui Anda, Anda berhak mendapat tambahan kredit satu juta rupiah. Demikian seterusnya tanpa batas.”

Demikian Pak Kar mengakhiri sambutannya. Tampaknya hadirin sangat puas dengan penjelasan Pak Kar. Wajah mereka berseri-seri.

Dan sejak hari itu, warga Kuat Kere mulai merekrut anggota, mulai dari keluarga terdekat hingga ke kampung sebelah, saat seluruh warga Kuat Kere sudah menjadi anggota KTA.

Mata warga Kuat Kere berbinar menyambut masa depan penuh kemakmuran.

Surat Pepaya kepada Kurma

Untuk saudaraku kurma di jazirah Arab.

Kutulis surat ini sebagai ungkapan rinduku padamu. Rindu yang timbul karena jarak lebar yang memisahkan kita. Rindu membuncah sebab habitat kita berbeda.

Sungguh sebenarnya aku segan menulis surat ini. Aku sadar engkau adalah buah nabawi, memakan buahmu dapat mendekatkan manusia ke surga. Sementara aku hanya buah profan yang jauh dari sabda kesucian. Memakanku hanya mendekatkan manusia ke tempat buang air besar. Sungguh jauh derajatku di bawahmu.

Terus terang aku sebenarnya iri padamu. Terlebih saat bulan Ramadan seperti ini. Semua ustadz menyanjungmu, menyuruh manusia berbuka dengan buahmu. Berbagai media mengupas tuntas manfaatmu. Pedagang pasar dan minimarket berlomba memasarkanmu. Meskipun kamu tak tumbuh di negeri kediamanku, tak kurang akal orang mengimpormu.

Saat datang di negeriku, engkau sudah berbentuk buah kering. Kadang kala kau diawetkan dengan cairan gula, membentukmu jadi manisan kurma. Meski begitu, nilaimu di mata manusia tak berkurang sedikitpun.

Kadang aku berandai-andai, sekiranya 14 abad lalu aku tumbuh subur di Hijaz mungkin aku pun akan punya kedudukan sama denganmu. Walaupun aku tidak yakin, seandainya Kanjeng Nabi diutus di negeriku, aku akan disebut dalam sabdanya. Maklum, sebenarnya aku pun bukan penduduk pribumi tanah ini. Lagi pula terlalu banyak pesaingku di tanah tropis. Mungkin aku akan kalah dengan pisang ambon.

Sudaraku kurma di jazirah Arab.

Aku tak bisa berpanjang lebar menulis. Kalau engkau berkenan, sudilah kiranya engkau membalas suratku. Aku sangat ingin tahu bagaimana manusia di negerimu memperlakukan buahku. Apakah mereka menyukaiku? Apakah di sana daunku yang pahit juga dijadikan masakan? Apakah buahku dijual dalam bentuk segar di sana?

Kutunggu balasan darimu. Maafkan atas kata-kataku yang menyinggung perasaanmu. Sungguh aku tetap menyayangimu sebagai saudara seperbuahan.

Saudara jauhmu.

Pepaya

Merayakan Kebohongan, Meratapi Keadilan


Konon sudah menjadi tabiat para penyelenggara negara di Kerajaan Nganjang Gribig untuk berbohong. Dari obrolan punggawa kraton, yang tanpa malu bercerita tentang kepandaian mereka menyulap angka, kok rasanya benar adanya kabar tentang masifnya hobi berbohong itu di antero kerajaan.

Di Nganjang Gribig, sudah biasa dua dikatakan tiga. Satu juta disebut seribu. Tampil merakyat di televisi, berselingkuh dengan korporat di belakang.

Ibarat air bagi tanaman, kebohongan itu menjadi unsur utama penggerak kerajaan. Dari pucuk sampai akar, bahkan rembesannya membasahi tanah di sekitarnya. Tentu bukan air jernih menyegarkan, melainkan cairan limbah yang perlahan membusukkan kerajaan.

Rakyat Nganjang Gribig sadar bahwa mereka dibohongi. Sebagian mereka berteriak, bukan karena menolak kebohongan melainkan karena mereka tak dapat kesempatan untuk meraih kemakmuran melalui kebohongan. Sebagian lagi membohongi diri mereka sendiri bahwa nasib kerajaan akan berubah melalui pengumpulan kotak suara yang diadakan secara berkala.

Entah bagaimana bisa bangsa yang mengaku penyembah Dewata, yang penyelenggara negaranya bersembahyang rajin setiap hari, yang pemangku pemerintahannya disumpah dengan nama-Nya, tanpa merasa berdosa mengkhianati ajaran rontal yang mereka sucikan.

Budaya bohong yang sudah sedemikian parahnya membuat punggawa kerajaan kehilangan indra untuk mengenal keadilan. Keadilan menjadi tengik di penciuman dan pahit di mulut mereka.

Maka di Nganjang Gribig, punggawa yang menempatkan perkara pada proporsinya menjadi orang buangan. Mereka yang membela hak rakyat dari para penerkam rakus menjadi musuh yang harus dibungkam. Apabila sedetik saja keadilan tegak, menangislah para punggawa karena takut tak bisa mengendara kereta kencana.

Sungguh menyedihkan hidup di Nganjang Gribig.