Catatan Awal Musim untuk “Star Wars Rebels” Season 2

Star Wars Rebels musim kedua dimulai dengan penayangan The Siege of Lothal bulan Juni lalu. Sekedar informasi, tayangan tersebut tidak dihitung sebagai episode pertama. Penomoran episode dimulai dengan The Lost Commander yang tayang Kamis (15/10) sebagai episode kesatu. Belum ada informasi berapa episode yang akan ditayangkan sampai akhir musim nanti.

Episode kedua, Relics of The Old Republic, sudah ditayangkan Kamis (22/10) lalu. Episode ini menjadi kelanjutan dari The Lost Commander. Keduanya adalah satu cerita yang dibagi menjadi dua episode. Dengan durasi tayang tiga puluh menit per-episode, sepertinya Rebels akan sering menyajikan cerita dengan cara dipotong seperti ini.

Dalam kedua episode tersebut dikisahkan, rebellion yang basisnya dihancurkan oleh Darth Vader dalam episode The Siege of Lothal kesulitan untuk mencari lokasi persembunyian baru. Ahsoka mengusulkan untuk menghubungi seorang komandan berpengalaman yang sudah pensiun. Tim Ghost (Kanan Jarrus, Hera, Sabine, Zeb, Ezra, dan Chopper) ditugaskan untuk mencari komandan tersebut di sebuah di sistem Seelos.

Tim Ghost berhasil menemukan komandan itu. Baru kemudian diketahui, komandan tersebut adalah Rex, Wolffe, dan Gregor dari batalion 501st yang dulu bertempur bersama Ahsoka di bawah pimpinan Anakin Skywalker.

Masalah kepercayaan diangkat dalam kedua episode ini. Kanan tentu saja memendam memori pahit pengkhianatan tentara clone. Hampir seluruh Jedi terbunuh ketika tentara clone melaksanakan Order 66. Kanan sendiri beruntung bisa lolos dari pembantaian itu.

Pada serial sebelumya, Star Wars: The Clone Wars (2008-2013) diceritakan mengenai chip yang ditanamkan di kepala pasukan clone. Chip tersebut membuat tentara clone menuruti perintah Palpatine untuk melaksanakan Order 66. Rex, Wolffe, dan Gregor berhasil menghilangkan chip di kepala mereka, sehingga mereka tidak membunuh Ahsoka dan Anakin.

Sementara itu, Wolffe merasa ketakutan dengan kehadiran seorang Jedi yang dianggapnya akan membalas dendam. Wolffe melaporkan kedatangan Kanan dan kawan-kawannya kepada tentara Imperial. Kallus datang bersama pasukannya untuk menangkap mereka.

Pada episode kedua, Rex menunjukkan bahwa mereka masih setia sepenuhnya pada Jedi dan Republik lama. Bersama tim Ghost mereka bahu membahu memukul mundur pasukan Kallus. Kisah berakhir mengharukan saat tim Ghost berhasil membawa Rex bertemu Ahsoka.

Ada banyak yang menarik di kedua episode ini. Di sini terungkap bahwa tentara clone sudah dipensiunkan semua. Mengingat pertumbuhan mereka yang dipercepat, pada usia tiga puluhan mereka sudah menjadi kakek-kakek seperti Rex. Entah bagaimana dengan bayi-bayi clone yang masih diproduksi saat clone wars masih berlangsung.

Para veteran clone punya kebanggan bahwa mereka bertempur lebih baik daripada Stormtroopers, tentara baru yang direkrut oleh Kekaisaran. Sudah menjadi guyonan umum di kalangan penggemar Star Wars tentang kemampuan stormtroopers. Episode kedua memasukkan guyonan tersebut ke dalam cerita.

Selain membangkitkan kenangan penonton kepada era clone wars, episode tersebut juga memperkenalkan karakter Inquisitor baru yang ditugasi untuk memburu Kanan, Ezra, dan Ahsoka. Inquisitor berada langsung di bawah komando Darth Vader. Dengan hadirnya Inquisitor ini, tampaknya Darth Vader tidak akan banyak muncul lagi sepanjang musim kedua nanti.

Sayangnya, sampai di episode kedua musim kedua ini, suasana Rebels masih sama seperti pada musim pertama. Mungkin karena anggaran yang tidak banyak, Rebels sering menggunakan latar tempat yang membosankan dan terlihat sepi. Seperti juga planet yang menjadi tempat tinggal Rex ini, berwujud gurun pasir tanpa ada penghuni lain. Sulit untuk tidak membandingkan dengan Star Wars: The Clone Wars yang selalu terkesan ramai.

Sejak The Siege of Lothal hingga episode kedua ini, perkembangan Ezra belum banyak ditampilkan. Sekali dua kali, Ezra memang tampak dipuji oleh beberapa tokoh, namun penonton belum melihat aksi besar yang dilakukan Ezra. Kehadiran Inquisitor baru tentunya akan memaksa Ezra mematangkan kemampuan bertempurnya untuk bertahan hidup.

Musim kedua memang masih panjang. Banyak waktu untuk mengeksplorasi perkembangan tokoh-tokoh inti dalam tim Ghost. Untuk sementara waktu, Ahsoka perlu “disimpan” sampai nanti di tengah musim agar cerita bisa banyak berkembang pada tim Ghost. Hera, Sabine, dan Zeb jangan sampai hanya menjadi pelengkap saja.

“Star Wars Rebels” ditayangkan premier oleh Disney XD setiap Rabu pukul 21:30 waktu Pacific di Amerika Serikat (Kamis pukul 8.30 WIB di Indonesia).

Tayangan ulang bisa disaksikan tiap Sabtu pukul 7.30 WIB di Disney XD Indonesia dan pukul 11.00 WIB di Disney Channel Indonesia.

Kompor Tenaga Jin (Bagian 2)

Seminggu berlalu sejak Pak Sudrajat memulai pembuatan tabung dekomposer itu. Siang tadi aku ditelepon Pak Sudrajat. Dia memintaku datang ke rumahnya. Sore sepulang kerja, aku menggenjot vespaku, melaju ke rumah Pak Sudrajat.

Sesampainya di sana, kudapati tabung tersebut telah selesai dibuat. Pak Sudrajat siap untuk melanjutkan proyek kompor tenaga jin ke tahap berikutnya.

“Coba baca berita ini, Mas,” Pak Sudrajat menyodorkan selembar koran.

Aku membacanya. Tertulis berita mengenai kemunculan bola api misterius di Gunung Kidul.

“Menurutku, bola api itu adalah sisa-sisa jasad jin yang terbakar,” Pak Sudrajat menjelaskan, “kita akan ke lokasi tersebut untuk mencari sumbernya. Nanti kita ajak teman-teman semua agar pencarian bisa lebih cepat.”

“Naik motor ke sana, Pak?” aku bertanya. “Sambil bawa tabung dan kompor ini?”

“Ora, ora. Aku berencana meminjam mobil temanku. Nanti malam tolong sampeyan antar aku ke rumah temanku itu.”

Begitulah. Malamnya aku memboncengkan Pak Sudrajat menuju ke rumah temannya. Sepanjang perjalanan, Pak Sudrajat menceritakan tentang temannya itu. Namanya Pak Prawiro. Dia adalah kakak seperguruan Pak Sudrajat.

Cukup jauh rumahnya, hampir mendekati Kali Progo. Perlu waktu empat puluh lima menit sebelum kami masuk ke satu jalan kecil yang mengarah ke rumah Pak Prawiro. Setelah melintas sekitar lima ratus meter di jalan kecil ini, akhirnya sampai juga kami di tujuan.

“Pengobatan Tradisional Prawiro / Besar dan Panjangkan Seketika / Khusus Pria”. Entah mengapa, perasaanku tidak enak membaca spanduk yang terbentang di depan rumah Pak Prawiro ini. Di pelataran terlihat sebuah mobil dan tiga sepeda motor parkir di sana. Sepertinya pasien-pasien Pak Prawiro.

Kami tidak masuk melalui pintu depan, melainkan di sebuah pintu samping. Pak Sudrajat sepertinya sudah hafal bahwa keluarga Pak Prawiro menempati bagian ini, terpisah dari ruang utama yang digunakan untuk menerima pasien.

Istri Pak Prawiro menyambut kami. Orangnya kelihatan ramah. Setelah beberapa saat, kami disuguhi kopi. Pak Prawiro berbincang dengan Istri Pak Prawiro (sebut saja Bu Prawiro), sementara aku sesekali menimpali ketika ditanya oleh Bu Prawiro.

Kami berbincang sekitar satu jam. Aku dengar satu persatu kendaraan yang tadi diparkir telah meninggalkan tempat. Bu Prawiro beranjak ke ruang praktik untuk memberitahu Pak Prawiro mengenai kedatangan kami.

“Woh, kowe to Jat, wis awit mau?” Pak Prawiro muncul sambil menyalami kami berdua. Orangnya terlihat sudah berumur namun masih gagah. Bersarung dan mengenakan kaos warna hitam berlengan panjang. Bu Prawiro muncul kemudian, lalu pamitan pada kami untuk istirahat.

Setelah saling menanyakan kabar, Pak Sudrajat mengungkapkan maksud kedatangannya. “Kang, kalau mobil sampeyan tidak dipakai, aku mau pinjam besok Sabtu, mau ngajak bocah-bocah ke Gunung Kidul.”

Pak Prawiro malah tertawa mendengar permintaan Pak Sudrajat. “Jat, Jat, kamu itu. Coba kalau kamu dari dulu mau buka praktik seperti aku, pasti sekarang sudah bisa beli mobil sendiri. Ora nyilih wae. Sudah susah-susah belajar kok tidak dimanfaatkan.”

Aku baru tahu, ternyata Pak Sudrajat juga menguasai ilmu besar dan panjangkan. Sepertinya beliau punya alasan tersendiri tidak mau membuka praktik seperti ini.

Belum sempat Pak Sudrajat menimpali, Pak Prawiro melanjutkan perkataannya. “Ya wis, begini saja, kalian boleh pinjam mobilku tapi tidak gratis.”