Perihal Tidak Mengunggah Foto dan Identitas Anak ke Internet

Saya memilih untuk membatasi pengunggahan foto dan identitas anak ke internet. Tidak dapat lepas seutuhnya memang. Sebab saya juga perlu mengirim foto anak kepada sanak saudara yang jauh, dan itu lebih nyaman melalui internet. Pun saya tidak melarang keluarga dan kerabat untuk mengunggah foto dan nama anak saya.

Ada beberapa alasan mengapa saya sendiri meminimalkan hal ini. Pertama, saya menghormati hak pribadi anak saya kelak kalau sudah besar. Boleh jadi dia ingin wajah dan namanya dikenal banyak orang, tapi boleh jadi pula dia ingin menyembunyikan identitasnya. Bagaimanapun saya telah dan akan banyak menentukan apa dan siapa dia pada awal kehidupannya. Mau tak mau memang saya akan mewariskan pandangan hidup yang akan menjadi fondasi baginya untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Tapi untuk hal-hal yang masih dapat dihindari sambil menunggu usianya mencapai mumayyiz, biarlah saya menunggu saja.

Alasan kedua adalah mencegah penggunaan foto anak saya untuk tujuan yang di luar kendali keluarga kami. Foto yang terunggah di publik sangat mudah untuk digandakan, dimanipulasi (diedit, dijadikan gambar meme, dan sebagainya), bahkan tidak menutup kemungkinan disalahgunakan untuk dijadikan alat tindakan kriminal. Kasus foto anak selebritas Ruben Onsu adalah salah satu contohnya.

Alasan ketiga, mungkin sedikit kurang masuk akal bagi Anda, adalah untuk mencegah orang yang mungkin berpikiran tidak baik dengan kelahiran anak kami. Dalam kepercayaan Islam, kami mengenal adanya ‘ain.

Hal-hal di atas adalah sikap saya sendiri. Saya tidak mempermasalahkan dan tidak akan mendebat Anda jika Anda berpandangan lain.

Oh ya, sedikit bocoran, saya memanggil anak saya Nan.