Pada Suatu Sabtu Kliwon

Dini hari di Bantul tentu saja adalah puncak kesunyian dalam ritme satu putaran bumi yang dilakoninya. Pekerja borongan yang lembur baru saja terlelap dan mbok-mbok pasar masih menyiapkan dagangannya di rumah. Geliat kehidupan rakyat masih menunggu sejam dua jam lagi untuk dimulai.

Namun, pada dini hari Sabtu Kliwon itu, di sebuah rumah yang berada di samping selokan lebar yang bertanggul, suatu aktivitas yang melibatkan seluruh anggota keluarga telah dimulai. Aktivitas mruput itu berawal dari keluhan satu anggota keluarga, seorang perempuan muda yang tahun lalu menikah. Setelah melalui masa empat puluh minggu kehamilan, dini hari itu sang perempuan mengalami pendarahan. Bersegeralah seisi rumah itu mempersiapkan diri, untuk kemudian melaju ke rumah sakit terdekat, RSUD Panembahan Senopati.

Kebahagiaan menyelimuti keluarga itu. Bidan yang berjaga malam itu menyatakan bahwa sang perempuan muda telah mengalami pembukaan dua. Tinggal menunggu hitungan jam, si buah hati akan segera lahir ke jagat marcapada. Segala puji bagi Allah.

Sang perempuan muda kemudian dipindahkan ke ruang bersalin ditemani ibunya. Hanya satu orang yang diizinkan oleh petugas rumah sakit untuk menemani. Sementara si suami menunggu dengan cemas di kursi panjang di luar ruangan.

Subuh berkumandang, matahari Sabtu pagi itu akan segera memunculkan sinarnya. Sang perempuan muda kini telah melewati pembukaan empat.

Saat matahari telah naik sepenggalahan, ponsel si suami berdering. Ibu yang menjaga di dalam mengabarkan bahwa si buah hati telah lahir. Senyum mengembang di bibir hitam si suami. Lantunan pujian keluar dari bibirnya.

Si suami diizinkan masuk ke ruangan. Dilihatnya sang istri terlentang dengan darah meliputi tubuh dan pembaringannya. Dan tepat di dada perempuan muda itu, tergolek tubuh mungil dengan tangisan keras.

Engkau telah hadir, Nan.