Ihsan Ariswanto - blog pribadi

Berkah Puasa Berita dan Medsos

Sejak saya beristirahat dari media sosial (medsos) akhir bulan lalu, konsumsi saya terhadap berita menurun drastis. Sesekali saya masih mendapat informasi, dari radio, dari koran, dari tv, dari kilasan judul berita yang muncul otomatis di browser, namun biasanya itu terjadi secara pasif saja dan tidak saya telusuri lebih lanjut sebagaimana dulu. Terlebih berita politik, bisa dibilang saya buta dengan isu politik aktual dua pekan belakangan.

Ada manfaat yang saya ambil dari puasa berita dan media sosial ini. Yang utama, saya tidak lagi berminat untuk berdebat di grup-grup komunitas yang saya ikuti. Ini membuat energi dan emosi saya lebih terarah untuk hal-hal yang jauh lebih penting untuk saya. Debat politik itu bagaikan candu. Ketika seseorang mengutarakan gagasan yang menurut saya salah dan bodoh, saya dahulu bergegas ingin membantahnya. Dan bantahan saya akan dibalas dengan bantahan lain, yang membuat saya harus mencari informasi tambahan sebagai senjata untuk melawan bantahan mereka. Begitu seterusnya hingga energi dan emosi saya terbuang sia-sia hanya untuk membuktikan bahwa gagasan mereka itu bodoh dan salah. Ending-nya, tetap saja mereka bersikukuh dengan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran.

Manfaat lain yang saya rasakan adalah, saya menjadi lebih optimis melihat keadaan. Beberapa bulan belakangan saya hampir putus asa melihat masa depan, memikirkan bagaimana kelak anak saya akan hidup jika situasi makin menuju ke arah yang buruk. Tanpa asupan berita, perlahan pikiran-pikiran pesimis itu berkurang. Saya bisa menikmati kondisi saat ini dengan lebih tenang.

Jika menengok ke belakang, seharusnya saya tidak perlu terjatuh dalam situasi seperti itu. Dahulu waktu kuliah, saya pernah berprinsip tidak mau hidup saya dikendalikan media. Bahkan pernah, dalam sebuah ujian semester, saya menulis jawaban yang terinspirasi American Idiot-nya Green Day: “Don’t wanna be an Indonesian idiot, one nation controlled by media.

Masalahnya adalah, dahulu saya menganggap televisi sebagai alat media untuk mengontrol bangsa, saya hampir menghindari tv dan memilih Internet sebagai sumber informasi yang lebih independen. Saya telat menyadari bahwa saat ini, media sudah menguasai Internet, orang-orang sudah terhubung dengan Internet, bahkan orang biasa seperti Simbok saya sudah memegang ponsel yang berinternet. Kebebasan memilih informasi hanyalah ilusi saja saat orang-orang di media sosial ternyata membicarakan isu seragam sebagaimana yang dilemparkan oleh media besar.

Untuk lepas dari jeratan kontrol media besar ini, cara saya adalah memisahkan konsumsi berita dari trending media sosial. Trending bukan ukuran penting tidaknya suatu isu. Agar keluar dari pengaruh trending, sebaiknya tak usah sering-sering mengakses media sosial. Think local act local, sesekali diperlukan. Lokal bukan hanya dalam hal spasial, tapi juga “lokal” dalam hal topik yang diminati.



Tinggalkan Balasan

rss | micro.blog | twitter | fediverse | lapak | tildeverse