Revolusi Prematur Anarkis Gedongan

Sebuah tatanan yang berpijak pada ratusan tahun sejarah tidak dapat dihancurkan dengan seonggok dinamit.

(Peter Kropotkin)

Jangan tertawa! Aku memang sengaja menulis judul dan kutipan ala esai para aktivis anarki progresif radikal nan cendekia. Anggaplah seperti anak di bawah umur yang terbatuk-batuk merokok demi pengakuan kedewasaan.

Bagaimanapun, ketika kamu hendak berbicara dengan kalangan yang menganggapmu sebagai orang luar, kamu harus belajar mengerti tata cara mereka bicara satu sama lain.

Yang aku tahu, para aktivis pergerakan sosial itu selalu bicara dengan membeo teori sana-sini. Seolah kastamu sangat rendah dalam pandangan mereka jika kamu belum khatam sekian buku dan jurnal. Mereka enggan mendengarmu dan membaca tulisanmu yang miskin kutipan. Maka biarlah aku pura-pura kenal Pyotr Alexeevich Kropotkin yang bahkan mengeja namanya saja aku tak mampu.

Rupa-rupanya keengganan untuk mendengar dan memahami suara di luar kelompok elit menara gading mereka pun nampak dalam aksi di Jogja pada Hari Buruh kemarin. Secara gegabah mereka mempertontonkan perlawanan terhadap penguasa dengan merusak fasilitas negara dan mendeklarasikan perang terhadap feodalisme di Yogyakarta. Di media publikasi jaringan mereka, bahkan sempat muncul tulisan yang menyatakan siap berhadapan dengan warga Yogyakarta.

Untuk selanjutnya, tulisanku ini kutujukan bagi para anarkis yang ikut dan mendukung penggunaan kekerasan dalam unjuk rasa kemarin.

Sebelum aku ngomel lebih jauh, biar adil, aku ucapkan selamat atas keberhasilan kalian. Kalian telah mengangkat gerakan anarki yang selama ini sembunyi di bilik kos dan ruang-ruang diskusi tertutup menjadi apa yang kalian khayalkan sebagai revolusi. Setidaknya kalian telah menjadi bahan pembicaraan menyela riuhnya dukung mendukung capres.

Tetapi aku punya pertanyaan: revolusi macam apa yang kalian inginkan jika rakyat kalian jadikan sebagai musuh? Masyarakat anarki macam apa yang terbentuk dari revolusi tanpa dukungan rakyat? Tunggu satu dua tiga hari, satu minggu, satu bulan, pemberitaan tentang kalian hilang ditelan berita drama politik. Revolusi kalian hanya akan tercatat sebagai “demonstrasi berujung kerusuhan” pada sobekan koran pembungkus tempe.

Kalian mungkin terpesona dengan dongeng “propaganda of the deed”, membangkitkan perlawanan dengan contoh perbuatan. Namun yang kalian lakukan kemarin sama sekali tidak membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap penindasan. Justru warga Yogyakarta bangkit melawan kalian.

Hari ini publikasi jaringan kalian merayakan peristiwa kemarin sebagai sebuah keberhasilan. Semakin menegaskan sikap kalian yang menempatkan warga Yogyakarta yang membela Sultan sebagai musuh. Dalam pada itu, suara ketertindasan warga yang tergusur bandara baru Yogyakarta, yang kalian jadikan bahan bakar unjuk rasa kemarin, tenggelam jauh dikalahkan oleh rasa penasaran mengenai jati diri kalian: gerombolan yang ingin membunuh Sultan.

“Lawan api dengan api” itu yang kalian sebarkan sebelum 1 Mei. Tetapi kalian lupa bahwa warga Yogyakarta bahkan tidak tahu api mana yang harus dilawan. Dalam benak mayoritas warga Yogyakarta, tidak pernah terlintas sedikit pun untuk menjadikan raja mereka sebagai musuh. Kesultanan adalah identitas dan kebanggaan orang Jogja. Kalian secara gegabah mengajak orang Jogja membunuh identitas mereka sendiri.

Aku sarankan sekarang bakar semua buku anarki kalian yang membuat otak tambah bebal. Kalian menolak otoritas, tapi menyembah isi buku, menempatkan para penulis anarkis luar negeri yang hidup sekian puluh tahun lalu sebagai dewa-dewa kalian. Di mana kemerdekaanmu kalau otakmu diperbudak teori usang asing yang tak berlandaskan pada realita di tempatmu berpijak?

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.