Adakah Guna Lembar Baru Itu?

Dibukanya lagi lembar-lembar catatan lamanya. Kusut penuh coretan, menyakitkan bagi mata yang memandang. Ia teringat catatan kawan-kawannya yang serba rapi. Mudah dibaca, menyenangkan sekali.

Dicobanya mengguratkan pena pada satu halaman kosong. Pada awalnya ia berhati-hati agar tak ada satu pun kesalahan dalam menulis. Baru dua kalimat ia tuliskan, sudah muncul satu kesalahan. Ia menghela napas. Terpaksa ia menyoret kata yang salah itu. 

Tiba-tiba semangatnya menjadi kendur. “Aku tak mampu menjadi seperti mereka,” gumamnya.

Ingin rasanya ia robek seluruh lembar-lembar itu, menggantikannya dengan buku catatan baru. Namun apa gunanya? Bahkan pada lembar baru saja ia tak mampu hindari kesalahan, apalagi memulai satu buku catatan yang baru. Yang ada pastilah hanya dua buku catatan yang sama-sama penuh kesalahan.

Sesungguhnya ia telah berusaha memperbaiki dirinya. Namun selalu kesalahan sama ia ulangi. Terus menerus sampai ia lelah dengan dirinya sendiri.

Pernah di masa lalunya ia benar-benar menyerah. Dalam kurun lama tak satu pun catatan ia buat. Ia abaikan tugasnya dan berpikir untuk mengakhiri saja semua itu.

Hanya saja, orang-orang masih mengasihinya. Diselamatkan ia dari titik rendahnya itu. Mereka berharap ia mampu berubah.

Hingga hari ini ia masih saja belum mampu menjadi seperti yang mereka harapkan. Dan semua itu bagai lingkaran setan yang tak bisa diputus.

Adakah guna lembar-lembar baru itu bila terus saja ia sia-siakan dengan kesalahan?