Konspirasi Dukun dan Pedagang Kemenyan

Benar atau tidak yang kudengar ini, aku tak dapat membuktikan. Yang jelas, dari selentingan kabar yang tertangkap telingaku, aku dapati cerita ini cukup untuk membuatku waspada.

Sebelum lebih jauh membaca, perlu aku jelaskan bahwa apa yang kutuliskan ini adalah berita dariĀ Nganjang Gribig, bukan di Nusantara yang kita cintai ini.

Konon begini, demi meraup untung sebanyak-banyaknya, para pembuat kemenyan sengaja mengutus juru dagangnya ke para dukun. Tentunya para juru dagang ini tidak datang dengan tangan kosong. Gula, teh, dan sedikit amplop sudah dipersiapkan untuk para dukun.

Tujuan diutusnya para juru dagang ini adalah agar sang dukun menyuruh para pengikutnya untuk membeli menyan merek tertentu yang diproduksi oleh si pembuat menyan yang mengutus juru dagang tadi. Selain buah tangan yang disetor di awal tadi, sang dukun juga ditawari amplop lebih tebal jika berhasil merekomendasikan kemenyan itu sesuai target yang disepakati.

Demi mencapai target tersebut konon para dukun tidak segan-segan menyuruh pengikutnya membeli kemenyan tersebut meskipun sebenarnya tidak diperlukan sama sekali dalam proses ritualnya.

Dapat Anda bayangkan efek dari penggunaan kemenyan yang tidak sesuai aturan ini. Nyai Widagdi misalnya, pernah kesurupan Siluman Unta waktu ritual memanggil leluhur akibat penggunaan kemenyan yang tidak pada tempatnya itu.

Kadang memang bahanyanya tak separah itu. Seperti yang dialami Pak Winarko, petani sederhana itu terpaksa menjual kambing satu-satunya demi membeli kemenyan yang disuruh dukun panutannya. Padahal dalam upacara mbeseli yang tiap jelang panen beliau lakukan, tidak perlu kemenyan mahal.

Entahlah mengapa para produsen menyan tega melakukan itu semua. Terlebih lagi para dukun. Mereka kok rela melanggar sumpahnya hanya demi meraih keuntungan duniawi semata. Ah iya, tentu saja tidak semua pedagang kemenyan dan dukun terlibat konspirasi seperti itu. Hanya oknum saja.