Merayakan Kebohongan, Meratapi Keadilan

Honest is the Best Poetry. -- Gregory Alan Elliott

Konon sudah menjadi tabiat para penyelenggara negara di Kerajaan Nganjang Gribig untuk berbohong. Dari obrolan punggawa kraton, yang tanpa malu bercerita tentang kepandaian mereka menyulap angka, kok rasanya benar adanya kabar tentang masifnya hobi berbohong itu di antero kerajaan.

Di Nganjang Gribig, sudah biasa dua dikatakan tiga. Satu juta disebut seribu. Tampil merakyat di televisi, berselingkuh dengan korporat di belakang.

Ibarat air bagi tanaman, kebohongan itu menjadi unsur utama penggerak kerajaan. Dari pucuk sampai akar, bahkan rembesannya membasahi tanah di sekitarnya. Tentu bukan air jernih menyegarkan, melainkan cairan limbah yang perlahan membusukkan kerajaan.

Rakyat Nganjang Gribig sadar bahwa mereka dibohongi. Sebagian mereka berteriak, bukan karena menolak kebohongan melainkan karena mereka tak dapat kesempatan untuk meraih kemakmuran melalui kebohongan. Sebagian lagi membohongi diri mereka sendiri bahwa nasib kerajaan akan berubah melalui pengumpulan kotak suara yang diadakan secara berkala.

Entah bagaimana bisa bangsa yang mengaku penyembah Dewata, yang penyelenggara negaranya bersembahyang rajin setiap hari, yang pemangku pemerintahannya disumpah dengan nama-Nya, tanpa merasa berdosa mengkhianati ajaran rontal yang mereka sucikan.

Budaya bohong yang sudah sedemikian parahnya membuat punggawa kerajaan kehilangan indra untuk mengenal keadilan. Keadilan menjadi tengik di penciuman dan pahit di mulut mereka.

Maka di Nganjang Gribig, punggawa  yang menempatkan perkara pada proporsinya menjadi orang buangan. Mereka yang membela hak rakyat  dari para penerkam rakus menjadi musuh yang harus dibungkam. Apabila sedetik saja keadilan tegak, menangislah para punggawa karena takut tak bisa mengendara kereta kencana.

Sungguh menyedihkan hidup di Nganjang Gribig.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *