Menyikapi Penghinaan dalam Alam Kebebasan Berbicara Ini

Awal September ini, ada dua kejadian yang membuat saya makin gelisah dengan kebebasan berbicara di Indonesia.

Pertama, adalah kejadian seorang anak muda yang didatangi Polisi karena tulisannya di Instagram yang ditujukan pada seorang terkenal. Si orang terkenal ini merasa terhina oleh tulisan tersebut dan merasa perlu memberi pelajaran pada si anak muda. Hasil akhirnya si anak muda meminta maaf, dan si orang terkenal memajang rentetan peristiwa tersebut di akun Instagramnya (saat ini sudah dihapus).

Kejadian kedua, terjadi di Samarinda. Seorang pria dipukuli oleh sekelompok orang karena telah menulis di Facebook. Tulisannya mungkin dianggap menghina oleh sekelompok orang tersebut sehingga mereka membalas dengan kekerasan,

Saya mengamati pendapat publik tentang kedua kejadian tersebut. Pada kejadian pertama, kebanyakan komentar yang saya lihat membenarkan apa yang dilakukan si orang terkenal. Terlebih si anak muda memang menantang untuk dilaporkan ke polisi. Pada kejadian kedua, komentar-komentar yang saya lihat juga kebanyakan menyalahkan si pembuat status Facebook yang dianggap tidak tahu diri sebagai pendatang.

Saya kira tidak ada orang yang suka menerima perkataan buruk (mohon maaf kalau ternyata ada). Saya juga tentu akan marah bila ada yang menghina saya. Sebisa mungkin saya menjaga ucapan dan tulisan agar tidak menyakiti hati orang.

Namun di sinilah permasalahannya. Setiap orang bisa jadi punya standar berbeda tentang batas-batas perkataan yang bisa dianggap sebagai penghinaan. Umpatan “anjing kau!” dari kawan akrab bisa jadi akan ditanggapi berbeda dengan umpatan serupa namun diucapkan oleh orang yang belum dikenal. Bisakah hal ini dibuat ketentuannya secara objektif dalam peraturan perundang-undangan?

Selanjutnya, dalam kedua kejadian tersebut terdapat kesamaan pula persamaan lain. Kedua pelaku sama-sama berada pada posisi yang lebih lemah. Si artis selain punya banyak penggemar, juga punya kuasa untuk menugaskan “orang-orangnya” (saya memakai istilah yang dipakai si artis itu sendiri) untuk mencari keberadaan si anak muda. Sementara pada kejadian di Samarinda, si pria adalah pendatang berhadapan dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih banyak.

Kegelisahan saya adalah, apakah memang si artis begitu mudah bisa menghentikan si anak muda karena kuasanya? Akankah polisi juga bertindak sama jika pelakunya orang dengan posisi lebih kuat? Bagaimana tindakan polisi jika “korban” penghinaan berada pada posisi yang lebih lemah?

Untuk kejadian di Samarinda kegelisahan saya adalah, mengapa polisi tidak memberikan setidaknya imbauan bagi masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan? Kita tahu, pemukulan adalah tindakan kriminal. Kemarahan warga Samarinda adalah wajar dan bisa dibenarkan, tapi tidak dengan tindak pemukulan.

Kebebasan berbicara memang memerlukan kedewasaan. Kalau bisa diungkapkan dengan cara halus, mengapa harus berkata kasar? Hati-hati, jika kita menikmati perbuatan menghina atau membuat marah orang lain, bisa jadi sebenarnya kita menderita gangguan jiwa.

Demikian juga bagi yang merasa terhina oleh perkataan orang lain. Menahan diri dan mengabaikan penghina adalah cara terbaik untuk membungkam mereka.