Antara Rukun Islam Keempat dan Mama Google

Entah sudah ke-berapa kali saya naik KA Pasundan, kereta yang wajib mengalah setiap kali berpapasan dengan kereta berkelas lebih tinggi ini. Dulu pernah tertulis di tiketnya, kereta ini dijadwalkan sampai Surabaya pukul 19.38. Sekarang, sepertinya PT KAI sudah menyadari bahwa kereta ini jarang sekali tiba di tujuan Stasiun Gubeng sebelum pukul 21.00, maka dituliskan pukul 21.38 sebagai jam kedatangannya di Surabaya.

Saya termasuk orang yang susah ngobrol kalau tidak diajak ngobrol duluan. Dalam perjalanan kali ini, kebetulan sekali, tidak ada yang mengajak saya ngobrol. Dua penumpang berlogat ngapak di depan saya (tampaknya seperti bapak dan anak) lebih suka berbicara antara mereka sendiri, alih-alih mengajak saya bicara. Ibu berkerudung di samping saya juga lebih memilih menjaga anaknya (gadis kecil, saya taksir berumur 6-7 tahun) yang setelah lelah bermain Pou di ponsel ibunya, kemudian tertidur di kursi kereta.

Saya pun berganti-ganti kegiatan. Membalasi sms, baca buku, tidur dengan posisi udang goreng, dan sekalinya terbangun, diam termenung mendengarkan pembicaraan orang-orang.

Satu pembicaraan menarik minat saya. Seorang ibu ditelepon oleh anaknya. Suara telepon tadi dikeraskan, sehingga saya bisa mendengar pembicaraan mereka dengan lumayan jelas. Si anak menanyakan soalan yang sepertinya adalah pekerjaan rumah dari sekolahnya. Anak dalam telepon tadi menanyakan rukun Islam yang keempat.

“Rukun islam itu yang sahadat, salat, itu kan?” sang Ibu terdengar bertanya.

“Iya, kalau rukun iman itu yang iman kepada Allah, iman kepada Rasulullah,” suara pria di sampingnya menjawab. Tampaknya suaminya.

“Dik itu kan ada hp Mama yang Samsung tuh. Coba cari di goole rukun Islam yang keempat,” si Ibu tadi masih melanjutkan telepon. Terdengar si anak dari seberang telepon sana menjawab. Saya kurang jelas mendengar apa jawaban si anak.

Beberapa saat kemudian pembicaraan telepon itu selesai. Sedikit terkejut, selama ini saya mengira orang-orang Islam yang pernah ngaji atau sekolah pasti hafal rukun Islam. Ternyata kadang kala memang orang bisa lupa.

Tidak beberapa lama terdengar si Ibu kembali menelepon anaknya. Tampaknya dia baru saja selesai mencari di google. “Satu, membaca dua kalimat syahadat, dua mengerjakan salat lima waktu …,” si Ibu terdengar mendiktekan lima rukun Islam kepada anaknya, “yang empat menjalankan puasa di bulan Ramadan. Itu kan pelajaran kelas satu Dik.”

Selanjutnya si Ibu terdengar memberi macam-macam pesan pada si anak.

Saya termenung lagi memikirkan jawaban hasil googling si Ibu itu. Ibu tadi memberi jawaban urutan rukun Islam dengan zakat sebagai nomor 3 dan puasa nomor 4. Urutan yang kurang populer dibandingkan yang biasa didengar lewat lagu TPA itu. Saya malah merasa cemas dengan si anak. Jika ternyata gurunya si anak tadi memakai urutan rukun Islam versi lebih umum (nomor 3 puasa dan nomor 4 zakat), apakah jawaban si anak tadi akan dibenarkan?

Tahun lalu, urutan rukun Islam ini sempat menjadi bahan berita karena adanya buku pelajaran agama Islam di Kalimantan Selatan yang menuliskan rukun Islam dengan urutan yang tidak biasa. Entah seperti apa urutannya saya tidak tahu. Yang jelas Pak Ahmad Makkie dari MUI Kalimantan Selatan meminta masyarakat jangan bingung soal tata urutan Rukun Islam. “Yang terpenting Rukun Islam itu lengkap lima dan dikerjakan,” kata beliau.

Sebenarnya, bukan urutan itu yang saya pikirkan. Yang saya pikirkan adalah apakah ibu/bapak guru atau pembuat soal menyadari adanya perbedaan ini? Sebagai guru agama Islam beliau-beliau pastilah mengerti perbedaan pendapat dalam agama ini. Tidakkah berefek buruk bagi pemikiran siswa jika hanya membenarkan satu pendapat saja?

Tentu saja jauh lebih mudah bagi pendidik dan juga siswa jika hanya satu versi saja yang diajarkan. Namun, memberikan gambaran bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang biasa terjadi akan membantu siswa untuk bisa menerima keragaman yang akan dia hadapi nanti di kehidupan.

Cukup unik juga bagi saya melihat si Ibu menyuruh anaknya mencari di google. Saya juga tidak keberatan dengan ini, lha wong kita semua juga kalau tidak tahu akan suatu hal pasti segera mengetik di kolom mesin pencari Inernet itu. Hanya saja saya rasa, membiarkan anak menyusuri rimba Internet sendiri (tanpa bimbingan) bukanlah hal yang bijak.

Saya sendiri andai berada dalam posisi seperti itu, akan lebih menyarankan untuk membuka lagi buku pelajaran yang memuat materi yang ditanyakan tersebut. Setidaknya, mengambil sumber dari buku resmi akan membiasakan anak untuk selektif dalam memilih informasi.